Dan apabila kau mempertanyakan kesetiaanmu, aku hanya akan menjawab bahwa aku akan mendampingimu selama kau mampu membuktikan, kau ayah dari anak-anakku.
Tidak pernah aku mempertanyakan cintamu. Ranjang kita, bibirmu, bibirku, persetubuhan kita, dan hari-hari kita menjadi jawaban atas semua rasa yang ada di hatimu.
Mungkin kau tidak akan tahu, bahwa aku tersiksa karena melihatmu. Menderita karena konspirasi birokrasi yang mempersulit perekonomian rumah tangga dan karena kita bertukar peran tidak sebagaimana harusnya kodrat.
Jika aku bisa memutarbalikkan waktu, aku akan meneruskan jalanku tanpamu. Tapi saat ini adalah waktu yang nyata, realita yang tidak dapat kita rubah. Aku muak dengan semua ketidakmampuan kita. Aku membenci keadaan yang membuat aku kehilangan cinta seorang lelaki yang seharusnya dicurahkan tanpa malu pun ragu saat aku berada di dekatnya.
Kau membenci apa yang kusenangi. Kau tidak pernah memberikan aku ruang untuk diriku sendiri, ruang untuk menikmati diriku, waktuku, dan rasaku. Dan kau juga menekukkan semua kemampuanku untuk melawan kebencian tersirat dan tersurat dari dirimu. Aku mengikuti semua bukan karena aku tidak mau, ingatkah kau dengan kedua bidadari mungil kita? Mereka membutuhkan ibu, dan aku ibu. Mereka membutuhkan ayah, dan kau ayah.
Haruskah aku terus menerus menyembunyikan serta menyamarkan semua pemberontakanku terhadapmu? Kau tahu aku terikat padamu, dan saat ini aku tergantung padamu. Walau aku tahu, jika aku mau, aku bisa meninggalkanmu kapan saja. Tapi aku tidak melakukan itu, karena mereka yang kau sebut anakmu, bidadarimu, keluargamu, keluarga kita.
Aku takkan berani berterus terang padamu mengenai ini, karena kau tidak memberikan ketenangan dan solusi tepat dalam semua pola pikirmu. Menangiskah aku karena semua? Ya, aku menangisimu karena kau terlalu bebal untuk mengeksplorasi dirimu sendiri. Meratapkah aku karena semua ini? Ya, aku meratapi nasibmu yang seharusnya bisa kau rubah dengan sedikit berpikir dan banyak usaha.
Aku hanya ingin kau tahu. Aku peduli padamu, dan caraku menyayangimu berbeda, karena kau adalah ayah dari anak-anakku.
//bdg, migrain gw mo matiin gw kali ya?!
Thursday, November 02, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment